Tapal Batas Tak Bisa Pisahkan Mereka

Rabu, 23 Juni 2010 | 02:48 WIB

Feliks Elu (63) dan adiknya, Marsel Elu (61), Rabu (16/6), membaur dengan sekitar 100 warga terkait ritual mecel niut naten (renovasi kuburan keluarga). Ritual unik itu ternyata sekaligus menjadi momentum reuni keluarga yang terpisahkan oleh tapal batas negara Indonesia-Timor Leste.

Feliks adalah warga Ponu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, sedangkan Marsel adalah warga Nipani, Distrik Oekusi (Ambenu), Timor Leste. Ritual itu berlangsung di kuburan umum Banat, di tepi utara Desa Manamas, yang terletak sekitar 65 kilometer utara Kefamenanu, ibu kota TTU.

Sementara Manamas adalah bekas Kefetoran ketika zaman penjajahan Belanda. Kawasannya kini meliputi empat desa, yakni Manamas, Benus, Bakitolak, dan Sunsea.

Perkampungan Manamas dan tiga desa lainnya tumbuh di sekitar kaki sebelah selatan Bukit Faunoem. Posisinya bertetangga dekat dengan perkampungan Nipani, Ambenu, Timor Leste, yang tumbuh di sekitar kaki sebelah utara bukit yang sama. Punggung bukit itu sekaligus menjadi tapal batas Naibenu dan Ambenu, yang warganya rata-rata berindukkan leluhur, bahasa, dan budaya yang sama.

Mereka sama-sama berasal dari leluhur Ambenu dan berbahasa dawan. Mereka juga memiliki kesamaan dalam sejumlah ritual adat, termasuk mecel niut naten. Bahkan, nama sejumlah anak kampung di Manamas sama persis dengan kampung induknya di Ambenu, seperti Nakmeto, Bobkase, dan Kutet. Naibenu yang menjadi nama kecamatan sebenarnya berarti orang Ambenu.

”Kami memang dari leluhur yang sama. Bahasa, adat, dan budayanya sama sehingga kekerabatan tak mungkin putus hanya karena dipisahkan tapal batas negara. Kami harapkan, tapal batas negara jangan sampai menghambat kekerabatan dan kebersamaan kami secara fisik,” ujar Antonius Meko, tetua adat yang juga masih diposisikan sebagai raja Manamas, di Manamas, Selasa (15/6).

Jalan tikus

Banyak warga Timtim di perbatasan bahkan berani menempuh ”jalan tikus” demi membangun kekerabatan itu. Soalnya, mereka amat sulit mengurus paspor dan persyaratan lainnya, dengan biaya hingga ratusan ribu rupiah, bahkan lebih dari sejuta rupiah. Sebagai tetua berkarisma dan sangat dihormati warga setempat hingga Ambenu, Antonius mengaku merasa sangat tersinggung ketika kunjungan kekerabatan mereka terpaksa harus melalui jalan tikus hanya karena tak punya paspor.

”Kami memang miskin, namun tetap manusia dan bukan tikus. Harapan saya, dua pemerintah memberi kami kemudahan hingga kunjungan kekerabatan cukup dengan pas lintas batas atau mungkin cukup dengan kartu tanda penduduk,” katanya.

Ada banyak kisah sedih di tapal batas sejak Timor Leste berpisah dari Indonesia. Saat kematian Heu Meko di Bausiu, Ambenu (Oekusi), tahun 2004. Antonius Meko bersama keluarga besar pun ikut merasakannya. Karena semuanya belum memiliki paspor, mereka tidak bisa terlibat langsung dalam perkabungan di Bausiu. Mereka tertahan di pintu perbatasan Wini.

Kasus sebaliknya juga terjadi saat kematian Mama Theresia Misa Keba di Wini, TTU, tahun 2005. Salah seorang putranya, Yahones Aki’it, bersama keluarga yang adalah warga negara Timor Leste dan menetap di Oekusi, juga tertahan di pintu perbatasan saat hendak melayat.

Arti ritual

Arti sebuah ritual adat bagi masyarakat Timtim sangat besar dan mungkin tidak dapat dibayangkan oleh pengambil kebijakan di Jakarta. Ritual itu mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi mereka.

Suasana itu pula yang tergambar ketika mereka melaksanakan ritual mecel niut naten di kuburan umum Banat. Mereka khusus menyiapkan 7 babi dan 5 kambing untuk acara tersebut. Ritual itu diawali pembunuhan babi dan kambing.

Sejumlah pria lalu menjagal kedua hewan kurban itu. Bagian hatinya disodorkan kepada Donatus Neno yang berkemampuan membaca pesan tersirat di balik jejaring garis pada permukaan ate bibi (daging hati kambing) dan ate fafi (daging hati babi). Mereka pun tersenyum lega ketika sang tetua asal Ambenu atau Oekusi itu menjelaskan tak ada aral yang merintangi ritual itu. ”Semuanya baik adanya,” katanya.

Pada saat yang sama, sekelompok wanita dewasa sibuk menanak nasi dan memasak lauk dari daging hewan kurban di kuburan itu. Sementara sekelompok pria sibuk membongkar gundukan nisan tua yang akan direnovasi.

Di sekitarnya pula sejumlah tetua duduk melingkar sambil menerima dan mengumpulkan barang bawaan keluarga sebagai antaran sesuai standar adat saat melayat anggota keluarga meninggal. Barang antaran itu berupa tais (tenunan Timor), uang, lilin, dan berbagai benda berharga lainnya. Kesemuanya itu sebagai simbol perkabungan dan secara simbolis dipersembahkan bagi anggota keluarga yang meninggal. Antaran itu adalah kewajiban yang tertunda akibat pergolakan berdarah di Timtim hingga memisahkan mereka sejak 11 tahun lalu.

”Ini semua adalah antaran bagi Elias Mani yang meninggal tahun 2002 di Manamas. Kami dari Ambenu (Oekusi) saat itu tidak bisa melayat karena tidak bisa melewati tapal batas yang dijaga ketat aparat. Sekarang ini baru tiba saatnya melayat sekaligus mecel niut naten bersama keluarga kami di Manamas,” tutur Hendrikus Metan, tetua asal Nipani, Ambenu.

Sebelumnya, Selasa (15/6), mereka juga menggelar acara serupa di Oetulu, lokasi kuburan tua lainnya di Manamas. Total ada tujuh anggota keluarga meninggal yang kuburannya direnovasi. (Frans Sarong/Sutta Dharmasaputra)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2010/06/23/02484849/tapal.batas.tak.bisa.pisahkan.mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s