About My Self

484222_3358253760285_1193872371_n

Saya lahir di Tumu, sebuah desa di Amanatun Utara, Timor Tengah Selatan, pada hari Sabtu 4 Februari 1978 dari pasangan Agustinus Lasi Bobo dan Margartha Tafuli. Saya pun diberi nama Yohanes Victor Lasi Bobo oleh kedua orang tua untuk mengenang almarhum kakek (ayah dari bapak) yang meninggal dua tahun sebelumnya (1976). Seharusnya saya bergelar Yohanes Victor Lasi Bobo II atau Jr. heheh, namun budaya Atoni Meto sendiri tidak mengenal itu, makanya nama saya jadi seperti sekarang… Waktu itu, ayah saya adalah seorang guru pada SDK Yaswari Tumu. Saya sendiri sebenarnya adalah keturunan blasteran, ayah berasal dari Manufonu, TTU dan mama adalah orang asli Amanatun (Teufbu’u). Orang tua saya tentunya sangat senang karena saya adalah anak dan cucu pertama dalam kedua keluarga bapak dan mama..

Amanatun Utara adalah sebuah kecamatan yang terletak di wilayah timur TTS dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Belu, saat ini mekar menjadi 3 kecamatan, yakni Amanatun Utara, Kokbaun dan Toianas. Tahun – tahun itu, Amanatun Utara adalah sebuah wilayah yang menakutkan. Ia dikenal sebagai pusat dan gudang “teku“. Teku adalah sebutan untuk gerombolan pencuri yang biasanya beranggotakan hingga puluhan orang. Mereka selalu mencuri pada orang-orang memiliki harta dan tidak segan untuk membunuh pemiliknya bila tidak mau bekerja sama dengan mereka. Biasanya mereka memberi pesan terlebih dahulu sebelum memulai aksi. Selain teku, sering terjadi perang antara warga Amanatun Utara di desa Lotas dengan warga Biudukfoho dan Bokong dangan Wanibesak dalam memperebutkan tanah di wilayah perbatasan TTS – Belu. Namun perebutan tanah antara dua kabupaten sekarang ini sudah jarang terjadi.

Masa kecil saya adalah masa yang paling menyenangkan. Saya masih teringat ketika berusia 3 tahun ayah saya membelikan sebuah mobil kayu berukuran sekitar 30X50, kemanapun saya pergi pasti akan saya bawa. Selain itu sebuah pistol air dan menjadi satu – satunya pistol yang ada di sekitar situ. Pistol itu tidak saja menjadi mainan saya tetapi menjadi mainan orang – orang tua, setiap kali kemana saya pergi pasti ada anak, orang muda maupun orang tua yang ingin melihat pistol saya…
Stiap sorenya menjelang magrip saya bersama om – om saya menggembalakan sapi, kerbau dan kuda milik kakek. Bahkan saya selalu dinaikan ke atas pundak kerbau atau menunggang kuda. Tiap hari bisa minum susu sapi maupun susu kerbau. Selain itu kakek adalah seorang pemburu handal dan penembak jitu, hasil buruannya selalu menjadi santapan yg lezat setiap pagi.

Setiap liburan besar Juni – Juli selalu kami gunakan untuk mengunjungi nenek dan keluarga besar di Manufonu dan Manamas.
Setelah memasuki usia sekolah saya mengikuti pendidikan di SDK Yaswari Tumu. Tahun pertama masuk sekolah saya berumur 6 tahun namun saya tidak bisa naik kelas karena tangan saya belum menjangkau telinga, walaupun nilay saya lebih baik dari yang naik kelas. Waktu masuk pertama kelas 1 saya disuruh oleh guru saya untuk menjangkau telinga dengan tangan. Banyak pengalaman yang saya peroleh selama 7 tahun di SD.

Setelah taman dari SD, orang tua memutuskan untuk saya memasuki SMP berasrama di St. Yohanes Don Bosco waktu itu menjadi sekolah favorit di Amanatun Utara. Tiga tahun hidup di asrama saya akrap dengan teman – teman, kakak kelas maupun adik kelas. Bahkan bapak asrama waktu itu menjadi teman akrap saya.

Setelah tamat SMP saya melanjutkan pendidikan ke SMA Seminari St. Rafael Oepoi Kupang dengan cita – cita untuk menjadi imam Katolik. Selama menjalani pendidikan di Seminari saya tidak mengalami kesulitan yang berarti, bahkan saya tumbuh menjadi seorang calon iman yang baik dan menjadi pemain volley andalan, baik itu Volley pantai maupun Volley indoor. Prestasi yang kami gapai adalah Juara Piala Walikota I tahun 1998. Prestasi ini terus terjaga higga saya menamatkan pendidikan di Universitas, selalu menjadi pemain andalan tim baik di Fakultas maupun di Universitas.

Tahun 1998 saya memilih untuk melanjutkan studi sebagai calon Imam Keuskupan Agung Kupang. Kurang lebih 5 tahun (1 tahun di TOR) dan 4 tahun kulai Filsafat dan Tahun Orientai Pastoral di Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Kupang (2 tahun), Paroki Katedral 1 tahun, saya memutuskan untuk meninggalkan panggilan saya setelah melalui refleksi yang panjang.

Agustus 2006 saya memulai karier sebagai Fasilitator Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) sebagai Fasilitator di Kelurahan Merdeka dan Fatubesi. Maret 2007 saya menjadi Senior Fasilitator di Kecamatan Kelapa Lima. Februari 2008 menjadi Asisten Koordinator Kota (Fasilitator Kabupaten) di Kabupaten Belu dan Maret 2010 – Febrari 2011 mengikuti program pertukaran pemuda Asia dalam program PEACE COMMUNICATORS COMMUNICATION FOR PEACE dan ditempatkan di Shalom Foundation Myanmar. Kembali dari Myanmar pada Februari 2011 membantu Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Agung Kupang dan akhir tahun 2011 bergabung dengan PT. Intersys Kelola Maju memfasilitasi platihan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) khusunya masyarakat eks pengungsi Timor Timur yang mendapat bantuan perumahan dari Kementerian Perumahan Rakyat RI. Tahun 2012 – 2013 saya menjadi Project Officer Tifa untuk NTT dalam program ‘Safety Migration’ mendampingi tiga mitra local yakni, Rumah Perempuan, Delsos Keuskupan Larantuka dan PPSE Atambua. Tahun 2013 saya mendapatkan beasiswa AAS dan aktif mengikuti kuliah di Flinders University dari Juni 2014 – Juni 2016.

2 comments

    1. Option of the poor memang harus dilakukan dalam berbagai bentuk dan oleh setiap orang, dengan demikian tatanan dunia yang sejahtera (bonum commune) ata kata UUD 45 (memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa) akan tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s